Banyak yang setuju bersyukur adalah sikap yang baik. Sikap yang tidak memberatkan, bahkan melepaskan beban-beban yang menyesakkan. Bahkan, dalam sebuah agama diajarkan untuk bersyukur karena akan menambah nikmat atas sesuatu. Secara logika, memang jika kita mensyukuri keadaan yang kurang, maka saat kita mendapat sedikit lebih, maka nikmatnya akan tak terkira. Lain halnya jika sedari awal kita selalu merasa kurang, maka seberapapun karunia yang kita dapatkan, yang ada di benak kita mungkin hanya β€˜I deserve MORE!’.

Bersyukur mungkin menjadi sikap yang tidak mudah dilaksanakan jika: kita dalam keadaan tidak mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Misal, kita mengalami kecelakaan. Halooow, kita sedang celaka, gmana mau bersyukur? Kita melupakan syukur atas nikmat selamat. Setidaknya kita masih diberikan nikmat menikmati hidup lebih lama. Tak usah contoh yang jauh dan mengada-ada. Ambilah saya sendiri yang sangat susah bersyukur saat sakit. Padahal sakit itu sungguh sakit yang ringan. Yang sebenarnya berkat migrain, maka saya bisa beristirahat, dan tidak memaksakan mata saya memantengin drama korea semalaman. Bukannya ini harusnya saya syukuri? Jujur, bersyukur di keadaan yang tidak menyenangkan, bagi saya pribadi, itu tidak mudah.

Bersyukur yang sulit lainnya? yakni bersyukur saat melihat orang lain mendapatkan yang lebih baik. Tak salah orang tua mengajarkan kita untuk tidak terlalu lama menengok-nengok, melainkan seperlunya saja, sekadar mengingatkan. Kita menengok ke atas supaya kita bersemangat meraih apa yang kita inginkan, dan menengok ke bawah agar kita sadar betapa beruntungnya kita. Tapi apalah daya, kita (lebih tepatnya saya) adalah manusia biasa, dengan mata dan pikiran yang liar seliar binatang buas. Saat menengok ke bawah, bukannya menjadi gambaran refleksi betapa beruntungnya diri, terkadang malah merasa mereka manja. Pun begitu saat saya menengok ke atas, yang ada saya malah merasa dunia tidak adil Mengapa mereka bisa mendapat lebih? Mengapa saya hanya mendapat segini? Pengorbanan apa yang kurang dariku?

Saya mendadak lupa dan tidak sadar bahwa Saya sangat lemah dalam berhitung. Saya hanya berhitung nominal yang terlihat, tidak pandai menghitung nikmat yang sungguh luar biasa. Saya tidak bisa menghitung betapa berharganya teman-temanku baik di tempat kerja maupun di kos. tanpa mereka, mungkin uang gaji sudah habis untuk beli pulsa menelpon sahabat2 lama, atau pergi belanja hanya untuk menghibur diri. Untung mereka semua mendukungku, menjadikanku merasa selalu dekat dengan keluarga. Saya yang suka makan, juga sangat sering tidak bisa berhitung berapa harga makanan-makanan enak yang sangat sering Saya santap dengan bebasnya. Jika Saya tidak mendapat itu semua? berapa banyak uang yang harus saya habiskan untuk merasakan nikmat itu? atau mungkin, Saya akan memilih untuk tidak membeli makanan enak demi menghemat uang? Sungguh Tuhan tahu, dan telah menempatkanku di tempat yang paling membahagiakanku.

Selain bersyukur yang sulit, Saya berpendapat ada bersyukur yang mudah. Yakni saat kita mendapat nikmat. Saat mendapat bonus, pujian dan terima kasih pada Tuhan hampir otomatis terucap. Mudah bukan, saat kita senang, mendapat sesuatu hadiah yang tak terduga, sangat wajar jika kita bersyukur. Namun ada yang tidak wajar bagiku beberapa waktu lalu. Yakni menjumpai orang-orang yang begitu mendapat hadiah, tidak bersyukur, melainkan menyibukkan diri mencela dan menuntut nikmat yang lebih. Sangat sempatnya orang-orang yang kutemui menelisik kecacatan dari suatu hadiah, memprotes dan menghina si pemberi berikut pemberiannya.

Bukannya sok baik, tapi bukankah itu melelahkan? Lebih nikmat rasanya jika terima dan nikmati, atau berikan pada orang yang lebih pantas, atau jangan terima sama sekali. That’s simple!

Agustus 2011

Advertisements