Masih teringat jelas percakapan antara saya dan mama saat saya masih kecil.

Saya kecil: Ma, kan kemaren aku cerita ke si Anu kalau masakan mama tuh enaaaak banget. Trus si Anu juga bilang ke aku kalau masakan ibunya juga enak banget. Aku penasaran, terus pas tadi aku ke rumah si Anu, aku cicipin sayurnya. Ih gak enak ma, hambar, gak enak deh pokoknya. Tapi kok bisa ya si Anu bilang masakan ibu nya enak? apa jangan-jangan semua anak ngerasa masakan ibu nya enak?

Mama : Iya lah nduk..bagi semua anak, masakan ibu pastilah paling enak.

Saya kecil : Kenapa ma?

Mama : Karena ibu memasaknya tidak sekadar memasak, tpi memasak dengan cinta. Pas memasak, mama berdoa semoga anak-anaknya yang memakan selalu sehat, pintar, dan sholeh-sholehah.

Sejak itu saya berkeyakinan bahwa memasak  dengan cinta akan menghasilkan makanan yang super enak dan berkekuatan dasyat. Makanan itu bisa menjadi pelet paling mujarab, membuat anak-anaknya yang terpisah berapapun jauhnya, dimanapun berada, meskipun di kota sejuta kuliner pun, akan tetap merasa masakan ibunya yang paling enak.

Tak hanya masakan, suapan ibu pun tiada tandingannya. Ceritanya SMP saya jauh dari rumah, dan masuk pukul 06.30, jadi saya harus berangkat dan berkemas cukup pagi, dan itu membuat suasana rumah jadi heboh dan kedandapan. Kadang waktu mepet membuat saya merasa tidak sempat sarapan. Toh nanti pas pergantian jam pelajaran saya bisa nyolong waktu sebentar ke kantin. Tapi mama saya punya peraturan tegas di rumah, bahwa siapapun tidak boleh meninggalkan rumah tanpa sarapan. Karena saya grusa-grusu berangkat, maka mama saya menyuapi saya. Sambil saya memakai baju, sepatu, dan lain-lain, mama saya menyuapi saya. Tidak memakai sendok, melainkan langsung dengan tangannya. Kadang Aq protes karena suapannya terlalu banyak. Saat protes akhirnya aku ngomel-ngomel dengan mulut penuh makanan. Betapa nakalnya saya.

Keampuhan dan kedasyatan masakan mama terbukti pada saya. Saat saya berkuliah di luar kota, yang memaksa saya jarang pulang, ketika merencanakan pulang kampung, checklist di agenda saya pastilah makanan yang ingin saya makan, tepatnya ingin dibuatkan mama saya. Smsan dengan mama saya pasti berkutat tentang itu. “Ma, Aq pengen sayur ini..Ma..Aq pengen dimasakin itu..”. Mama saya juga menyambut sama hebohnya “nduk, udah tak beliin ini 2 kg, siap dimasak, udah takbikinin ini siap dibawa balik”. Begitupun saat harus kembali ke kota tempat menuntut ilmu, rasanya beraaaat sekali. Di bis yang terpikir hanyalah masakan mama. Tak jarang sampai tengah jalan aku pengen kembali pulang, saking tidak tahan pengen makan masakan mama lagi. Lebai yah, tapi memang itu kenyataannya.

Saat sakit khasiat yang ditimbulkan masakan mama lebih akut. Saat itulah saya sangat merindukan suapan dari tangan mama. Yang meskipun suapannya suka kebanyakan, tapi tangan mama hangat dan kecil. Yang nasinya suka dipadatkan oleh jari-jarinya, jadi tidak ambyar. (saya menangis saat menulis ini).

Masih ingat dulu ketika masik SMP, saya sakit, tidak doyan makan. Lalu mama memberi tugas ke Emak tetangga yang tiap sore membantu membersihkan rumah,untuk menyuapi saya di siang hari. Ternyata beda. Tangan Emak tetangga terasa dingin. Makanan tidak senikmat dari tangan mama.

Saat berkuliah, ketika mama saya membatasi uang kiriman, yang mana berarti saya harus berketat dengan pemasukan-dan pengeluaran, membuat saya harus memasak hampir setiap hari. Yah, saya memasak di pagi hari untuk seluruh anak kos (ber 4-5), lalu sisanya buat saya makan siang. Sangat lumayan untuk penghematan.

Saat itu saya sangat menyesal, mengapa dulu saat diajak memasak saya suka menghindar dengan berbagai alasan. Saya lebih memilih menyiangi sayuran di depan TV daripada di dapur. Tapi yasudahlah, untung saya punya ibu yang sabar membalas sms2 pertanyaan resep dari saya. Dan alhamdulillah..hasilnya tidak mengecewakan. Seluruh kosan doyan bahkan lahap dnegan masakan saya (kecuali protes mereka karena sering kepedesan).

oiya, dengan masakannya, mama juga sangat bisa membuyarkan program diet saya. Masa-masa setelah lulus kuliah adalah masa diet makan malam. tapi mama saya selalu tidak tega dan akhirnya merusak diet saya. “wis tak gawekne sambel senenganmu ilo nduk..” Ya, saya menyerah!

Dari situ, sampai saya bekerja, saya ingin sangat sering memasak. Saat mencari kos, pertanyaan wajib saya adalah “ada dapur?”. Itu sangat esensial. Bekerja menjadi sangat menyenangkan, karena paginya kita sarapan enak, dan saat istirahat siang sangatlah menyenangkan dengan bekal yang bisa kita bagi dengan teman-teman (saling mencicipi).

teman-teman sering heran dan tidak percaya bahwa saya memasak bekal sendiri. Lha emang siapa lagi, siapa yang mau masakin, orang tinggal sendiri. “Kok sempet?” Kenapa tidak? Mama saya mengajari prinsip “nyambi”. Yaitu multitasking. Jadi di dapur tidak menjadi pekerjaan yang menyita waktu sehingga membuat pekerjaan lain tidak terselesaikan. Memasaklah dengan waktu seefektif mungkin. Contohnya gampang, saat menyangrai bumbu, kita mencuci dan memotong sayur, jadi begitu bumbu siap, sayur sudah siap. Prinsipku saat itu: memasak tidak lebih dari 30 menit!

Overall, intinya saya hendak menyatakan terimakasih sebesar-besarnya kepada mama yang telah memberikan pengalaman dasyat tentang masakannya. Juga memberiku satu cita-cita simpel, sangat simpel. Saya ingin nantinya anak-anak saya merasa bahwa masakan saya adalah masakan terenak di dunia. Saya ingin ketika anak saya nanti harus menuntut ilmu atau rezeki jauh dari saya, mereka tetap merindukan masakan saya. Saya ingin akhirnya mereka sadar bahwa saya memasakkan mereka dengan penuh cinta.

Advertisements