Mungkin banyak yang berpikir Aq darah tinggi, gampang marah dan mudah tersulut emosi. Hmm…benar gak ya? sebenarnya mungkin bukan di masalah gampang atau tidaknya. Tapi di masalah ekspresinya. Mungkin sudah gawan bayi mukaku dan ekspresiku seperti papan tulis. Terbaca, tak bisa disembunyikan. Entah itu Aq malu, suka, bingung, dan marah, semua tertulis jelas di papan tulis yang terpasang di mukaku. Semua orang tahu.

Pun kalau marah, Aq sungguh sulit untuk tidak menyatakan ketidak setujuanku pada satu hal. Bibir mecucu, muka ditekuk, dan berbicara dengan kecepatan tinggi. hehehe. Jika lewat text chat, pastilah chatku panjaaaaang tanpa enter. 😀

Sayang sekali tak banyak orang yang bisa memahamiku. Salah satu yang memahamiku adalah sahabatku semenjak kuliah. Dia teman sekamarku selama beberapa tahun. Teman curhatku sampai sekarang. Tidak..dia tidak sama denganku, kami jauh berbeda. Ibarat kata, kami adalah antonim. Kami berlawanan, tapi saling memahami. Dia tahu saat aku marah adalah bukan berarti aku membencinya, tapi hanya aku ingin didengar. Dan dengannya, tak perlu hitungan jam untuk membuatku tersenyum kembali.

Dari tak banyaknya yang memahamiku, jatuhlah aku ke stigma pemarah. Biarlah, salahku, resiko dari kesalahanku dan ketidakbecusanku dalam anger management. Aq sepenuhnya sadar Aq tidak ada hak mengaharapkan semua orang tahu aku tidak membencinya, dan aku tidak akan marah untuk waktu lama. Aq tidak mungkin menyuruh mereka untuk sabar untuk beberapa jam, bahkan menit saja sampai amarahku mereda. Aq tak mungkin meminta tolong semua orang untuk tidak balik marah bahkan membenciku. Maka, sungguh Aq setuju pada nasehat terbaik: “jangan marah, jangan marah, jangan marah.”

“..Bila ku lelah tetaplah di sini, jangan tinggalkan aku sendiri, bila ku marah biarkan ku bersandar, jangan kau pergi untuk menghindar..” Sheila on 7 – buat aku tersenyum

Advertisements