Suatu ketika, seorang Ibu curhat ke saya, sambil menangis menceritakan betapa nelangsanya kehilangan anak. Kehilangan anak yang dimaksud adalah si anak tak lagi dekat dengannya. Menurut cerita Ibu, sebenarnya ikatan batin antara dia dan si anak sangatlah dekat, sangat akrab, sehingga tak ada lagi rahasia di antara mereka, tak pernah absen menyebut nama masing-masing dalam doa. Pun setelah si anak menikah, ikatan itu tidak luntur, melainkan makin kuat.

Tapi mengapa dikatakan kehilangan? mereka saling kehilangan karena dijauhkan, dan dijarangkan komunikasinya. Rupanya istri si anak bisa dibilang cemburu dengan kedekatan itu, cemburu dengan kesiapsediaan ibu-dan-anak ini saling membantu tanpa alasan. Kecemburuan menantu dilampiaskan dengan menghalangi atau mengurangi intensitas anak berkunjung ke rumah ibu. Pun saat ada acara keluarga pun, sang menantu sudah siap melarang sambil menyodorkan alasan untuk tidak hadir.

Mendengar cerita itu, saya sedalam-dalamnya merasakan kenelangsaan sang ibu. Betapa anak yang dibesarkan dan disokong hingga dewasa tidak bisa dia raih untuk sekadar melepas rindu, sekadar mengantarnya ke pasar, untuk sekadar menghabiskan masakannya. Mengapa setelah si anak menikah Ibu seakan harus melepaskan sesuatu, harus kehilangan? bukankah seharusnya malah senang karena bertambahlah satu anak menantu, yang juga akan berbakti padanya sama halnya dengan anaknya. Yang akan menemaninya memasak untuk para tamu, berbagi resep, dan berbelanja bersama?

Saat dimintai pendapat, tentu saja saya tidak mendramatisir kenelangsaan itu. Untunglah Ibu itu curhat melalui sms, sehingga saya bisa membalas dengan guyonan, dan air mata saya tak terlihat di sms. Lebih lanjut, menurut pendapat saya, sikap menantu berawal dari tidak adanya komitmen antara anak dan menantu sebelum atau di awal pernikahan tentang bagaimana sikap mereka terhadap orang tua. Mungkin mereka terlalu sibuk merajut mimpi dan angan-angan tentang keluarga kecil mereka sehingga melupakan hal besar, yakni orang tua. Mungkin mereka melupakan satu hukum tentang waktu, semakin hari semakin berkuranglah kesempatan untuk membalas budi kepada orang tua. Semakin berkuranglah kesempatan kita untuk menunjukkan cinta pada orang tua. Tidak hanya berkaitan akan munculnya anak dan hal-hal lain yang menyita perhatian, namun juga tentang waktu itu sendiri. Tidak ada yang tahu sampai kapan kita ada di dunia.

Teriring cinta dan hormatku untuk seluruh ibu di dunia, yang selalu menyediakan seluas-luasnya ruang di hatinya untuk anaknya, yang tak pernah kehabisan maaf untuk anak-anaknya betapapun mereka menyakitinya, yang tak pernah move-on dan berhenti mencintai anak-anaknya.

Dengan berurai air mata, Juni 2012

Advertisements