Tak terhitung berapa lama Aq berpikir dan berdiskusi, untuk menemukan jawab atas pertanyaan: Mengapa Aq susah untuk melupakan atau berhenti memikirkan fokusku?

Padahal tidak terhitung beberapa kekecewaan yang kudapat. Juga tidak kurang jelas penolakan yang tergambar dari sikapnya. Hmh..sudah pastilah tak ada harapan. Bahkan jujur, Aq sama sekali tidak berharap apa-apa. Aq terlalu takut untuk itu. Kami terlalu jauh, yah berbeda. Dan pastilah seleranya atau yang dia pengen sama sekali bukan seperti Aq.  So what? kalau tidak ada yang bisa kutunggu, mengapa Aq harus menunggu? Mengapa tak bisa pergi.

Baiklah, mari kita cari jawabnya. Kemungkinan pertama menurut sahabatku hanya karena penasaran saja. Jadi Aq sangat begitu penasaran dan pengen tahunya sama fokusku, membuatku terobsesi, jadi Aq harus bisa tahu kayak gmana sih dia, sejauh mana sih dia. Hmm…untuk notion ini..kayaknya enggak deh. Oke Aq penasaran, tapi ya gak gitu-gitu banget lah. Bego banget Aq mengorbankan waktuku bertahun-tahun cuman buat ngejar penasaran doang. Jadi penasaran..coret!

Kemungkinan lain, karena Aq nya yang bandel. Yak, ibarat Aq tuh bakteri super bandel dan nakal. Dia adalah tubuh. Ketika tubuh sudah memberikan sinyal-sinyal penolakan dengan antibodinya, Aq si bakteri tetep ngeyel buat ngganggu dia. Dikasi antibiotik tiap hari dengan cara dicuekin, dibetein, dan sebangsanya. Sayangnya antibiotinya dosisnya kurang tinggi. Ingat, Aq nya bakteri yang bandel, durable. Jadi kebetean-kebetean, kekecewaan-kekecewaan itu malah menjadi semacam latihan buatku, yang malah membuat Aq kebal dan resisten. Ibarat latihan taekwondo.  Capeeekk banget rasanya mau mati tiap latihan, tapi kalau Aq rutin seminggu dua kali latihan, jadinya Aq malah menikmati kecapekanku, menikmati keringat dan ngos-ngosanku, bahkan pegel dan lecetnya kakiku. Kesakitan-kesakitan akan berubah menjadi nyaman jika dibiasakan.

Yaa…Ekspresi bete nya dalam text  malah kurindukan.  Dibalas singkat-singkat 1-2 huruf doang Aq bukannya cemberut, yang ada malah ketawa-tawa tersenyum liad balesannya yg judes. Aq mulai senang membayangkan wajah manyun dan kesalnya, ehhehee jahat ya. Aq mulai menikmati peranku sebagai bakteri dalam tubuhnya, Aq menyukainya, bahkan ketagihan.  Aq pikir Aq sekarang, bukan seperti umumnya wanita yang ingin jaim,berjinak-jinak merpati, tapi menjadi pemenuhan kebutuhan untuk selalu ada meski sebagai apa yang tidak diinginkannya. Yap, inilah mengapa Aq tak bisa melupakannya.

Aq butuh sakit yang lebih. Butuh penolakan yang lebih telak. Ibarat kata maen kembang api, Aq sudah sering kecipratan bunga apinya, Aq akan tetap menikmati itu. Aq akan kapok sampai saatnya Aq terbakar. Kalau bahasa kasarnya sih..dijiwit ra mempan lek durung dikaplok.

Seorang teman mengingatkan: “yakin..?”

Sahabat lain memastikan: “sudah siap sakit hati?”

Janganlah main-main dengan perasaaan sendiri.

Hyaaaaa…Aq galaauuu…Aq pengen sudah, dan cukup. Aq tahu ini gak bener dan penantian tanpa akhirku, harus diakhiri!! Aq harus move on menjadi orang yang lebih normal, lebih baik seperti yang diinginkan semua orang. Tapi Apa benar Aq siap?

Advertisements