Sebenarnya sudah sejak lama Aq pengen baca buku Habibie-Ainun, karena memang sudah mendengar bagaimana kecintaan seorang Pak Habibi kepada istrinya itu. Apalagi sejak kapan hari mencapat forward email yang isinya tentang pidato Pak habibi. Di situ pak Habibi juga mengungkapkan bagaimana linglungnya beliau sepebninggal istrinya.

Hmm..mungkin tentang linglung/kebingungan sepeninggal istri, Aq teringat mama-papaku. Well, alhamdulillah mama masih hidup. Mamku adalah istri dan ibu yang sangat baik. mamaku meladeni suami dan ngopeni anak-anaknya. Kemampuan multitaskingnya meangungguli komputer super canggih sekalipun. Memasak dngan cepat, menyiapkan makanan-minuman untuk papa, memilih dan menyiapkan baju papa untuk kerja setiap harinya mulai dari celana dalam, kaus kaki, sampai dasi. Jadi papa saya sangat dimanjakan, tahunya habis mandi apa yang mau dipakai sudah siap. Nah, alkisah..mamaku mendapat tugas untuk diklat di luar kota selama beberapa hari. Saat itulah papaku bingung, karena bahkan tempat di mana celada dalam pun tidak tahu.

Tentang ditinggalkan, juga kebetulan semalam ibu kosku lama meninggal dunia. Ibu kosku merupakan ibu rumah tangga, namun juga motor ekonomi yang hebat bagi keluarganya.  Dia yang mengurus kamar kos-kosan dan kotrakan yang tersebar di penjuru kampung. Dia juga sering menjual baju kepada tenagga-tetangga denga cara kredit. Sepeninggal Ibuk, gak kebayang deh siapa yang bakal ngurusin kontrakannya.

Kembali ke masalah buku..Aq udah dapet pinjeman nih, aheeeyyy..buku aseli plus tandatangan pak habibie.Trus klo bagus pengen cari buku lainnya  Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat  karya A. Makmur Makka, dkk.

Berikut quote-quote dari buku tersebut yang Aq dapet dari internet. Dari quote2 tersebut memang tampaknya Ibu Ainun bisa dijadikan teladan atau inspirasi.

“Sebagai perempuan Indonesia yang lama tinggal di Jerman, mendiang Ibu Ainun merupakan inspirasi bagi saya, juga bagi banyak perempuan Indonesia di Eropa. Penampilannya sederhana namun sempurna. Mengurus rumah tangga sendiri, masak sendiri, mendorong suami berkarier, bahkan kadang menyopiri ke kantor, mengantar anak-anak sekolah, merawat ketika sakit, membesarkan mereka hingga mengantarkan mereka menjadi orang-orang sukses.”
― A. Makmur Makka, dkk., Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat

“Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)”
― A. Makmur Makka, dkk., Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat

“Waktu itu, saya kelas tiga SMA dan Ainun masih kelas dua SMA. Ainun duduk-duduk bersama “gengnya” yang cantik-cantik. Entah bagaimana, saya tiba-tiba mendatangi “geng” itu, lalu berkata kepada Ainun, “Hey, kamu itu kenapa jelek ya? Hitam lagi.” Lalu, saya pergi. Pasti Ainun saat itu jengkel sekali. Kenapa? Mungkin ia berpikir saya kurang ajar. Padahal mungkin secara tidak sadar, saya tertarik kepada Ainun, tetapi saya mengekspresikannya dengan cara lain karena saya tidak terlalu berani mengatakan kalau saya suka dia.”
― A. Makmur Makka, dkk., Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat

“Kami berdua suami istri dapat menghayati pikiran dan perasaan masing-masing tanpa bicara. Malah antara kami berdua terbentuk komunikasi tanpa bicara, semacam telepati. Tanpa diberi tahu sebelumnya, sering kali karena tidak sempat, kami masing-masing dengan sendirinya melakukan tepat sesuatu yang diinginkan yang lainnya. Saya membuat masakan yang persis suami saya butuhkan tetapi saya lupa untuk menitipkan padanya sewaktu berangkat pagi. Hidup berat, tetapi manis. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)”
― A. Makmur Makka, dkk., Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat

“Waktu itu, kami tidak punya banyak, tetapi kami memiliki masing-masing (Ainun Habibie
― A. Makmur Makka, dkk., Ainun Habibie: Kenangan Tak Terlupakan Di Mata Orang-Orang Terdekat

Advertisements