Kereta adalah transportasi yg paling bisa diandalkan untuk menuju rumahku d kampung. Cepat dan langsung. Tak heran Aq sering menggunakan moda transportasi ini buat pulang kampung.

Tapi Kereta mempunyai banyak cerita tentang aku. Masalah hati. Aq ingat banget 17 agustus 2012, d hari kemerdekaan itu Aq merasa merdeka dalam arti sesungguhnya. Sendiri. Padahal saat itu Aq pulang bersama teman2 komunitas. Suasana sangat ramai. Tapi Aq sendiri membawa hatiku yg hancur. Yap, terkonfirmasi bahwa dia memang gak suka Aq. Fix

Sekarang, naik kereta lagi ditemani hatiku yang sakit, setelah sebelumnya sempat pulih. Rasa yg berbeda, namun tetap sama sakitnya. Yang sekarg terasa sakiiittt sekali. Antara shock, kecewa, tertipu, marah, sedih, dan bingung: apa aku salah?. Perpaduan rasa itu ternyata sungguh menyakitkan. Sakit sekali. Sepanjang perjalanan hanya bertanya2: salah apa ya Aq sampe digituin? Berlebihankah Aq? Terlalu menyebalkan hingga melampaui ambang batas kah? Lalu Aq harus bagaimana?

Mungkin hanya kebetulan Aq sedang di kereta. Mungkin hanya waktu aja yang gak tepat bagiku, karena lusa Aq menghadapi ujian akhir yang menentukan masa depanku.

Kemarin baru saja berpikir: “mungkin jika sudah mulai program Aq tidak lagi bisa mengganggunya. Tak bisa lagi menggombalinya. Dan semakin langka kemungkinan bertemu” baru saja terpikir, namun sudah menemukan jawabannya. Bahwa mungkin tak perlu menunggu program. Aq bukan terlalu sibuk untuk mengganggunya. Namun terlalu sakit untuk melihatnya.

*dinginya AC. Duduk dekat jendela. Kursi sebelah kosong. Klop banget settingnya

Advertisements